Aksi Damai, tetapi Mahasiswa Kembali Terima Pukulan

Pekanbaru (14/04), Ribuan Mahasiswa Universitas Riau yang tergabung dalam aksi dengan tujuan meminta pertanggung jawaban atas dihajarnya dua orang mahasiswa secara membabi buta oleh aparat keamanan pada (13/04) di Gedung Serindit Provinsi Riau hari ini kembali mendapat perlakuan penganiayaan dan pelecehan oleh Kepala Bidang Humas Provinsi Riau. Aksi yang bertempat di gedung serindit provinsi Riau ini berlangsung dari 14.30 hingga 17.30 WIB
“Dengan Aksi ini kita juga menjawab tantangan dari mereka yang mengatakan bahwa mereka ingin kita mengadirkan pimpinan mahasiswa ke Kantor Gubernur, sekarang kita hadir namun kenyataannya mereka tidak ada berarti mereka itu penakut hanya sekedar tantangan belaka”, ungkap Andres
sempat terjadi selisih tegang antara mahasiswa dengan Satpol PP Pemprov Riau. Hal ini disebabkan pemukulan yang dilakukan oleh oknum Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) terhadap mahasiswa. Salah satu korban pemukulan merupakan Presiden Mahasiswa Universitas Riau, Andres Pransiska yang mengalami luka lebam di pelipis mata kanan, yang hingga saat ini sudah diketahui ada 6 korban pemukulan oleh Satpol PP di gedung Humas Pemprov Riau.
“Kita sebagai Mahasiswa Universitas Riau dan Mahasiswa Se-Riau memberikan beberapa tuntutan terhadap pemerinrah Provinsi Riau terumatama Plt Gubri yang merupakan pimpinan di provinsi ini, berikut tuntutan kami,
1. Menuntut permintaan maaf secara terbuka oleh pemerintah Daerah Provinsi Riau atas tindakan anarkis pihak keamanan pada saat acara Rapat Kordinasi dan Supervisi KPK dengan Pemprov Riau kemarin kepada seluruh mahasiswa Universitas Riau, Mahasiswa Riau, dan Mahasiswa Indonesia.
2. Selanjutnya PECAT DARUSMAN selaku Kepala Biro Humas Pemprov Riau, PIMPINAN SATPOL PP, OKNUM PROTOKOLER dan Aparat yang menganiaya Mahasiswa.
Aksi ini dijawab oleh Ahmad Syah Harroffie selaku Asisten Satu Bidang Pemerintahan Dan Kesejahteraan Masyarakat Yang Juga Di Dampingi Asisten Dua Dan Tiga Pemrov Riau menuturkan bahwa pihaknya diperintah oleh Plt. Gubernur Riau yang saat itu berada di Jakarta untuk menemui massa aksi dan menerima tuntutan.
”Kami diperintahkan Pak Plt. Gubri untuk menemui adik-adik massa aksi dan menerima tuntutan masalah ini. Nantinya setelah plt. pulang baru kita sampaikan tuntutan ini. Kita mengikuti birokrasi yang ada,” ungkapnya.
Massa aksi yang geram atas jawaban dari asisten satu itu meneriaki agar Asisten Satu langsung menelfon Plt. Gubernur Riau untuk mendengarkan langsung tuntutan tersebut, namun ditolak dengan alasan etika dan birokrasi.
“Apabila tuntutan kami tidak di respon secara baik dalam waktu 1 x 24 jam oleh Pemprov Riau, maka kami akan melakukan aksi yang lebih besar lagi hingga perkara kekerasan dan pelecehan ini selesai”, tutur Abdul Khair selaku Kordinator Lapangan yang juga Presiden Mahasiswa terpilih Universitas Riau 2016.
Pasca pengajuan tuntutan, Andres Pransiska mengintruksikan masa aksi untuk mengirim SMS Kepada Plt. Gubri serta Mendagri RI.
“Mari kita kirim tuntutan kita langsung kepada bapak Plt. Gubri dan Mendagri RI, ini redaksinya PECAT KABAG. BIRO HUMAS PEMPROV RIAU, PECAT KASATPOL PP RIAU DAN OKNUM PROTOKOLER GUBRI. KALAU TIDAK MAMPU MEMECAT MEREKA, MAKA BAPAK YANG KAMI PECAT. KAMI TUNGGU 1 X 24 JAM. Ttd MAHASISWA INDONESIA MENGGUGAT”, ujar Andres lagi
Diakhir aksi Andres juga mengatakan bahwa hari ini mukanya sudah lebam, ditunggu tindakan atas tuntutan yang sudah diajukan, jika tidak ditanggapi maka Mahasiswa se-Riau siap Hancurkan Kantor Gubernur Riau. (* Irfan Sanova)
{KEMKOMINFO_BEMUR}